Rabu, 08 Juni 2016

[CERBER] DUNIA FIKSI 2



KELANJUTAN DF1...

Kantor hari itu sibuknya minta ampun. Pesawat telepon terus berdering di sana-sini. Sally keluar sejenak menghilang penat. Menghabiskan sebatang rokok merek Ardath. Agus yang melihat, datang mendekat.
“Rokok?” tawar Sally, mengetahui Agus menghampirinya.
“Terima kasih.”
“Bagaimana pekerjaanmu?”
“Entahlah,” kata Agus, merengut. “Aku pikir, aku kelelahan. Ibu Suwarti sangat mobile. Aku sulit mengikuti ritme beliau. Terkadang aku ingin berhenti saja; keluar dari pekerjaan ini.”
Sally menyeringai, membuang abu di ujung batang rokoknya. “Itulah risiko sekretaris. Apa kau sudah utarakan pada istrimu?”
“Hmmm… sebetulnya dari dulu dia menginginkan aku di rumah; menjadi bapak rumah tangga. Tapi aku tidak mau dengar. Aku berkeyakinan bahwa pria harus pula berkarir. Tidak terkurung dalam kubus yang disebut rumah.”
“Heh, baguslah! Lanjutkan pekerjaanmu!”
“Tapi─”
Sally meninggalkannya. Dia lelah melayani orang yang perkataannya kontradiktif. Orang seperti itu, mau dibilang bagaimana pun, sulit menerima masukan. Lagi pula banyak pekerjaan lain yang lebih penting daripada urusan Agus, pikirnya. Dia melempar pantat kembali ke kursinya dan menyelia beberapa berkas yang menggunung di atas meja. Tiba-tiba perutnya mual.

****

Hendro mulai gusar. Motornya belum kembali. Padahal, dia sudah katakan kepada Pak Putu bahwa pukul satu siang dia akan memakai motor itu untuk menjemput Ana dan Rico.
Akhirnya, demi menghindari pikiran-pikiran negatif tentang Pak Putu, dia menyibukkan diri. “Ah ya, kembangku seharian ini belum disiram.” Dia menyalakan air dari pipa di perkarangan rumah dan mulai menyirami kembang-kembangnya. Saking asyiknya, dia tidak menyadari kehadiran Pak Warjo di luar pagar.
“Kayaknya asyik benar,” sapa Pak Warjo.
“Eh, Pak Warjo. Sudah lama di sana? Maaf, saya ndak lihat.”
“Mana Ana dan Rico?”
“Belum pulang Pak. Saya belum bisa jemput. Soalnya motor saya dipinjem Pak Putu buat ngantarin anaknya berobat.”
“Berobat?”
“Iya, katanya anaknya demam.”
“Kok saya merasa anaknya ndak demam ya.”
“Loh, emang Bapak lihat anaknya? Saya memang belum. Waktu Pak Putu ngambil motor, anaknya di rumah.”
“Lihat dong! Tapi bukan di rumah sakit, melainkan mall.”
“Hah? Mall.”
“Iya, mereka belanja.”
Hendro terdiam. Mukanya memerah. Dadanya bergemuruh seperti gunung hendak meletus.
“Bapak yakin? Ndak salah lihat.”
“Hakul yakin. Kami malah saling menyapa.”
“Anaknya sehat-sehat saja?”
“Malah sedang menikmati es krim.”
“Terima kasih Pak, infonya,” Hendro masuk ke rumah.
“Loh, Pak, ini airnya belum dimatikan. Waduh, gimana ini?”

****

Minyak angin yang diberikan Prisly mulai sedikit melegakan. “Kenapa aku ini?” keluh Sally. “Perasaan baik-baik saja tadi. Kenapa kini mual?”
“Kau yakin sudah sarapan?”
“Tentu saja!” jawab Sally, jengah, karena pertanyaan itu diulang-ulang. “Asal kau tahu, Hendro paling marah bila kami keluar rumah dalam kondisi perut kosong.”
Sally mengoles kembali minyak angin di perutnya. “Ini minum!” seru Prisly kemudian, menyodorkan teh hangat yang dibuatnya sendiri di dapur umum.
Seteguk demi seteguk teh hangat itu tandas di tenggorokan Sally. Tubuhnya mulai hangat. Tiba-tiba, dari kejauhan, Loli memanggilnya dengan setengah berteriak. Ada apa lagi, sih?
“Ada telepon dari orang rumahmu, nih! Katanya penting!”
Sally segera menuju meja Loli dan mengambil gagang telepon itu secepat kilat. “Kenapa menelepon ke sini, Pa? Ini kan bukan meja Mama.” Sally betul-betul marah, dia enggan mengucapkan kata ‘halo’ atau ‘honey’ sebagaimana sebelum-sebelumnya.
“Lho! Mama ini gimana?” dari ujung saluran, suara Hendro tak kalah hebat. “Papa dari tadi menghubungi nomor Mama, tapi ndak diangkat-angkat! Handphone, juga demikian. Kemana lagi akhirnya kalau bukan ke meja Loli!”
“Oke! Mama yang salah.” Sally melunak, bukan karena takut, tapi tak enak didengar Loli.
“Ndak bisa gitu! Jawab dulu kenapa tadi ndak diangkat?”
“Papa kayaknya mulai lagi.”
“Ya wajar dong, ini kan ketidaknormalan.”
Apa? Ketidaknormalan? Tidak mengangkat telepon suami di sela-sela pekerjaan menumpuk di kantor disebut ketidaknormalan? Memanglah, pikiran pria, selalu rumit.
“Baiklah, Mama jawab. Mama mual tadi. Perutmu Mama mendadak sakit. Untung Prisly memberikan minyak angin. Jadi, agak mendingan kini.”
“Serius, Ma? Tapi betul Mama sudah baikkan?”
“Iya. Jangan khawatir. Ada apa nih nelepon ke kantor?”
“Nah, ini yang Papa ingin bicarakan. Papa tahu Pak Putu, kan? Itu tetangga kita yang tinggal dua blok dari rumah. Dia tadi pinjam motor. Katanya mau ngantar anaknya berobat--------” Hendro bercerita panjang lebar, tanpa membumbuhinya sedikit pun. “Jadi, sekarang baiknya bagaimana?” tanya Hendro meminta solusi dari istrinya.
“Kamu yakin Pak Putu belum ada tanda-tanda akan pulang?”
“Aku yakin.”
“Baiklah! Berhubung kita sudah telat setengah jam. Mama akan sewa taksi untuk menjemput Ana dan Rico. Kalau bisa, sebelum taksi itu tiba di sekolah, kamu sudah kasih kabar ke pihak sekolah bahwa Ana dan Rico dijemput taksi utusan kita. Mama akan kirim nopol taksinya.”
“Baik, Ma.”
Setelah menutup gagang pesawat telepon, Sally meminta resepsionis mencarikan taksi. Tak sampai sepuluh menit, taksi itu tiba. Dia memberi instruksi kepada si sopir. Si sopir segera paham.

****

Akhirnya, Pak Rudof membuka sesi tanya jawab. Ana segera mengacungkan telunjuk. “Ya, silakan Ana?” Pak Rudof memberikan izin kepada Ana menyampaikan pertanyaannya.
“Terkait pembagian tugas, dalam buku-buku sejarah ataupun film yang saya tonton, kenapa selalu wanita yang maju ke medan perang, bukan pria? Apa ini terkait warisan manusia purba?”
“Tentu!” jawab Pak Rudof. “Evolusi telah mentakdirkan wanita menjadi lebih kuat. Jadi, sewaktu masa berburu dan meramu, wanitalah pertama kali menciptakan senjata dan menggunakannya, bukan pria. Maka itu, mereka akhirnya lebih terampil menggunakan senjata, yang di kemudian hari digunakan saat-saat perang.”
Pak Rudof melanjutkan lagi kata-katanya, “Walau demikian, bukan berarti pria tidak sama sekali terlibat dalam perang. Mereka terlibat, namun sebatas juru rawat. Semasa perang dunia empat puluh tahun yang lalu, banyak pria direkrut menjadi juru rawat. Mereka sangat membantu.”
Ana mengangguk, “O…”

****

Karena guru Matematika mereka berhalangan hadir, Bapak Kepala Sekolah hanya memberi tugas menjawab soal-soal di halaman 48. “Mana ketua kelas?” tanya Bapak Kepala Sekolah. Lesi mengacungkan telunjuk. “Hasilnya nanti antar ke ruang Bapak ya!”
Keributan pun menggema lagi. Anak laki-laki mengelompok untuk bergosip. Sedang, anak perempuan berlari-lari dan melompat-lompat di atas meja, seakan berupaya menarik perhatian lawan jenis. Tiba-tiba Lesi berteriak, “Hoi, diam! Kerjakan soalnya?” Tapi, tak satu pun yang menggubris, mereka tetap membuat kegaduhan di kelas, kecuali Rico dan Andi.
“Kasihan Lesi. Betul-betul berat menjadi ketua kelas,” kata Rico, bersimpati.
“Kau suka padanya, ya?” tanya Andi.
“Hah! Suka?”
“Aku perhatikan. Kau sering melirik-lirik ke arahnya.”
“Itu kebetulan.”
“Jangan bohong!”
“Sungguh!”
“Mau aku sampaikan salam padanya?”
“Apaan, sih?”
“Mau nggak?”
Muka Rico memerah. Ada bunga-bunga di dadanya.
“Aku ke sana, ya?” Andi kali ini serius. Dia beranjak dari kursinya.
“Eh, jangan konyol!” cegah Rico.
“Kenapa? Tidak salah, kan, menyatakan perasaan?”
“Bukan begitu! Sini, duduk dulu!” Rico menarik lengan Andi, memintanya duduk kembali. “Papaku bilang, kalau kita suka pada cewek, jangan pernah mengutarakan langsung.”
“Kenapa?”
“Karena kita akan kehilangan harga diri.”
“Harga diri?”
“Iya, karena di mana-mana, cewek yang harus mengungkapkan perasaan lebih dahulu, bukan cowok. Tugas kita, hanya memberi tanda-tanda.”
“Tanda-tanda?”
“Misalnya,” Rico menjelaskan dengan hati-hati, “Ini misal ya. Jangan kau anggap serius! Ketika aku suka pada Lesi. Agar dia tahu aku menyukainya, aku sering mengajaknya makan di kantin. Atau menghadiahkannya suatu barang yang tidak sedang dia miliki, seperti sarung tangan kiper.”
“Ini beneran atau misalnya?”
“Kan sudah kubilang misalnya.”
“Tapi kok kayak beneran. Si Lesi kan memang hobi sepakbola. Dan, posisi favoritnya adalah kiper. Ayo, ketahuan kau?”
Muka Rico kembali memerah. Dia tidak bisa menutupi lagi perasaannya pada Lesi.

****

Sally kembali ke meja kerja, menyelia beberapa berkas. Minggu depan, dia sudah menempati posisi baru. Maka itu, dia berusaha menyelesaikan segala hal mengenai tanggung jawabnya kini; sebagai anggota tim Divisi I. Saat sedang asyik mengelompokkan berkas-berkas ke dalam satu folder, dia menemukan keanehan. “Lho, kok laporan Junaedi hanya sampai Oktober. Novembernya mana?”
Dia turun ke lantai dua, mencari Junaedi. Tapi dia tidak menemukannya. Seseorang dari sebelah, seakan tahu yang dicari Sally, bersuara, “Cari Junaedi, Mbak?”
“Mas tahu?”
“Dia cuti, Mbak. Sejak tiga minggu lalu.”
“Cuti? Tapi dia tidak memberitahu apa-apa pada saya.”
“Saya pun begitu. Tahunya dari Joko. Coba Mbak tanya saja sama dia. Tuh orangnya di meja paling pojok!”
Sally mendadak kesal. Bisa-bisanya Junaedi cuti di saat kewajibannya belum tuntas. Anehnya, perusahaan mengabulkan cuti itu.
“Ada yang bisa saya bantu?” Seorang pria berkepala pelontos melihat Sally sekilas, lalu kembali ke layar komputer.
“Apa kau tahu perihal Junaedi?”
“Ya, tentu. Dia sedang cuti. Cuti menikah.”
“Bisa lama begitu?”
“Aku pun tak paham,” pria itu menaiki bahunya, kedua jemarinya masih menari-nari di atas keyboard. “Yang jelas, katanya, dia sedang dipingit.”
“Pingit?”
“Dikurung satu bulan, tidak boleh keluar rumah, hingga resmi menjadi pengantin.”
“Aku baru tahu kalau ada adat semacam itu.”
“Banyak-banyaklah bergaul.”
Brengsek! Sally menggumam. Sok sekali orang ini. Dia tidak tahu apa, posisiku di atasnya. Mau bikin gara-gara.
“Kau tahu,” kata Sally, “berapa persen perusahaan kita defisit tahun ini? Dan itu, membuat perusahaan mengambil kebijakan akan melakukan PHK besar-besaran di semester depan.”
Pria bernama Joko itu berpikir sesaat. “Dua persen.”
“Banyak-banyaklah bergaul.”
Sally tersenyum puas. Paling tidak, kedudukan satu-satu kini.

****

Setelah menempelkan gagang telepon ke telinganya, Hendro mulai membolak-balikkan halaman buku telepon. Kalau tidak salah, dia menulisnya di sudut kiri halaman terakhir. “Nah, ini dia,” katanya, semringah. Lalu menekan-nekan tombol angka, dan menunggu.
“Halo! Ada yang bisa kami bantu?” jawab seseorang, ramah, dari ujung saluran.
“Saya Pak Indrawati,” kata Hendro (Indrawati adalah nama belakang Sally. Umumnya, kalau pria telah menikah, nama aslinya hilang, dan diganti nama belakang si istri). “Saya orangtua murid Ana dan Rico. Saya ingin mengabarkan bahwa mereka akan dijemput sopir taksi utusan kami.”
“Bisa berikan nopol taksinya, Pak Indrawati?”
“Tentu. VK 4673 LL.”
“Baik. Kami akan mengurusnya. Ada lagi yang bisa kami bantu, Pak Indrawati?”
“Itu saja. Terima kasih.”

****

Tak terasa sudah satu jam mereka menunggu. Dan, sialnya belum ada tanda-tanda papa mereka menjemput. Rico mulai jenuh. Sedang, Ana hanya memandangi pintu gerbang yang tinggi dan bawarna merah itu, berharap papanya muncul di baliknya. “Mungkin motor Papa sedang dipinjam,” kata Ana, berupaya mafhum, sekaligus menyabarkan hati adiknya. “Kita main hom-pim-pa, yuk!”
Tapi Rico bergeming. Dia memilih menundukkan kepala, memasang muka cemberut.
“Katanya kau dapat brosur dari Andi? Boleh lihat?” Ana membujuk kembali.
Andi membuka ranselnya. Mengambil brosur itu, dan menyerahkan pada Ana.
“Ih kerennnn,”
“Apa kubilang.” Andi mulai bicara.
“Aku yakin Papa langsung setuju setelah melihat brosur ini. Kalau boleh usul, kau ambil kelas sore saja.”
“Aku pun berpikir demikian.”
Ketika sedang asyik membahas toko-toko yang menjual keperluan balet, Bu Hilda, satpam sekolah, datang menghampir.
“Tadi saya dapat kabar dari Pak Narto bahwa kalian akan dijemput taksi. Mungkin lima menit lagi sampai. Bersabarlah.”
Ana terbesit menanyai sesuatu. “Kenapa kita dilarang pulang sendiri ya, Buk? Kami kan bisa pulang sendiri.”
Buk Hilda tersenyum. “Ini untuk kebaikan kalian. Akhir-akhir ini sedang marak penculikan. Kami tidak mau hal itu terjadi pada siswa di sekolah ini.”
“Tapi saya bisa menjaga diri,” debat Ana.
“Kamu memang bisa, tapi bagaimana adikmu? Dia laki-laki. Rentan menjadi target penculikan.”
“Kenapa laki-laki yang rentan menjadi target penculikan?” tanya Ana, penasaran.
“Karena laki-laki itu lemah. Mereka mudah dibujuk, dan bersedia tutup mulut kalau diancam. Maka itu, kita perlu melindungi mereka. Terutama dari kejahatan seksual.” Tak lama kemudian, dari arah pintu gerbang, terdengar klakson taksi yang bernopol persis disebutkan Hendro di telepon. “Itu taksi kalian! Ayo siap-siap,” seru Bu Hilda.

****

Sally menghampiri meja Prisly. Menghempaskan pantatnya yang padat ke kursi putar merek volmar. “Aku tak percaya,” katanya, mengusap-ngusap muka.
Prisly yang heran, bertanya, “Apanya?”
“Dia mengambil cuti. Dan aku tidak tahu.”
“Siapa? Tolong ya ceritamu jangan setengah-setengah. Aku bukan mentalis yang dapat membaca pikiranmu,” kata Prisly, jengkel.
“Junaedi. Kau tahu dia, kan?”
“Orang yang tinggi kurus itu. Kalau bicara, lantang sekali, mirip perempuan.”
“Tepat!”
“Dia memang akan menikah. Masak kamu nggak tahu? Hingga hari ini dia masih dalam pergunjingan kantor.”
“Ada apa memangnya?”
“Dia menyombongkan mahar perkawinannya. Katanya, calon istrinya itu, demi mendapatkan dia, harus membayar ganti-rugi yang luar biasa.”
“Ganti-rugi apa?”
“Ya, ganti rugi buat orangtuanya. Karena orangtuanya yang membesarkan Junaedi hingga se-gorgeous dan sesukses sekarang.”
Sally menyeringai, macam hewan peliharaan saja. Tapi dia enggan mengutarakan itu dan malah berkata, “Wow, transaksional sekali. Memang mahar Si Junaedi berapa?”
“Kurang lebih, seharga SUV.”
“Apakah calon istrinya itu dari kalangan berada?”
“Kalau dia mampu menebus, berarti dari kalangan berada dong.”
“Belum tentu!” debat Sally. “Bisa jadi dia berhutang. Karena banyak sekarang ini yang memilih berhutang demi menebus mahar laki-laki. Keluargaku, ada semacam itu. Tapi aku memilih tidak. Lagi pula, keluarga dari suamiku tidak menuntut apa-apa saat aku melamarnya. Asal kami setuju dan saling mencintai, itu cukup. Kau sendiri?”
“Aku,” ulang Prisly. “Kau mau dengar ceritaku? Hmmm… mahar yang kuberikan kepada istriku biasa saja sih, seperangkat alat sholat. Tapi, pestanya yang menguras kantong. Untung pamanku mahir bernegosiasi. Jadi, dari pihak laki-laki turut pula iuran, walau tidak seberapa.”
“Ngomong-ngomong, buat apa sih buat mahar yang begitu tinggi itu?”
“Biasa. Status sosial.”
“Inilah yang merusak esensi perkawinan,” sambar Sally, kesal. “Nggak terbayang berapa banyak pasangan yang tidak bahagia akhirnya, karena si istri terlilit hutang demi mahar. Atau, bagi mereka yang mau berencana menikah, harus menunda dulu, mencari uang, demi mahar si laki-laki.”
“Apa mau dikata. Itu budaya kita,”  kata Prisly, pasrah. “Tapi aku yakin, suatu saat hal-hal seperti itu akan ditinggalkan.”
“Semoga saja.” Sally kembali pada pekerjaannya.

****

Taksi yang membawa mereka tiba di rumah. Ana dan Rico segera keluar, lalu buru-buru menemui Hendro di dapur. “Papa! Kenapa tidak menjemput kami hari ini?”
Hendro meletakkan peralatan masaknya, ditatapnya putra semata wayangnya itu. “Motor Papa sedang dipinjam Pak Putu, Sayang. Hingga kini belum kembali.”
“Kalau begitu, kenapa Papa pinjamkan?”
“Pak Putu bilang bahwa dia akan mengembalikan motor itu sebelum pukul satu siang. Maka tak ada alasan Papa menolaknya.”
Ana menaruh ransel di meja makan, membuka kulkas, dan meneguk segelas air dingin. “Aku nggak mau naik taksi lagi. Mereka lama. Tidak segesit motor.”
“Taksi itu dipesan Mama, Sayang. Kalau Papa sih maunya kalian dijemput ojek. Lebih hemat, gesit, dan mampu menembus segala medan di Kota Z yang sibuk.”
Ana mendekat ke kompor. “Wah, ada rica-rica.”
Rico terbelalak. “Betulkah? Kalau begitu mari kita makan sekarang.”
“Eits, nanti dulu,” potong Hendro. “Papa ndak suka, lihat kalian makan masih mengenakan seragam sekolah. Pamali.”
“Ah, itu kan kata Nenek.” Rico ngedumel.
“Iya, kata Nenek,” imbuh Ana.
“Nenek itu orangtuanya siapa?”
“Orangtua, Papa,” jawab mereka serempak.
“Kalau begitu, kata Nenek sama dengan kata Papa dong. Ayo, ganti dulu sana!”
Ana dan Rico tertatih-tatih menaiki tangga. Mengganti pakaian mereka di kamar masing-masing. Lima menit kemudian, mereka turun dan duduk di meja makan dengan rapi. Hendro menyapikan nasi untuk mereka (tentu sesuai porsi yang telah dihafalnya), lalu mendorong sepiring rica-rica yang disalinnya dari kuali.
“Jangan lupa doa!”
Kedua buah hatinya itu menengadahkan kedua tangan dan komat-kamit seperti paranormal merapal mantra. “Selamat makan!” Mereka menyodok rica-rica itu ke mulut. Daging dan kuahnya seketika berloncatan mengotori meja. Nasi dan kecap bertumpahan di sisi kanan dan kiri piring. Hendro menyunggingkan bibir. Dia puas melihat buah hatinya itu menikmati masakannya dengan rakus.
Sambil mengunyah daging rica-rica yang sedikit alot, Rico bercerita panjang lebar mengenai kesehariannya di sekolah, termasuk brosur balet. “Papa, hari ini Andi memberiku brosur balet. Gambarnya bagus. Kak Ana tadi sudah melihatnya. Dan, katanya, kerennn. Papa mau lihat nggak? Nanti aku ambilkan. Kalau bisa, baca juga syarat pendaftarannya ya. Mudah kok. Pas foto 3x4 sebanyak lima lembar. Uang pendaftaran awal, dan akte kelahiran.”
“Kamu nodong, ya?”
“Nodong?”
“Ana,” seru Hendro. “Itu tadi nodong, ndak?”
“Mirip sih,” jawab Ana.
Hendro menghela napas. “Kalian harus belajar dari awal lagi, bagaimana mengutarakan maksud, tanpa harus nodong. Rico barusan nodong. Papa ndak suka. Begini, Papa ajarkan. Pertama, selidiki dulu apakah orang yang kita mintai pertolongan itu sedang kesulitan atau tidak. Contoh, Rico ingin les balet. Dan, itu memerlukan biaya. Seharusnya Rico tanyai dulu apakah Papa sedang memiliki uang lebih atau tidak? Kedua, biasakan percakapan yang penting seperti ini dibahas di ruang keluarga, bukan meja makan. Di meja makan yang ringan-ringan saja. Paham?”
Keduanya mengangguk.
Hendro melanjutkan lagi, “Sekarang, habiskan dulu makanan kalian. Baru bicara les balet.”
Dua puluh menit kemudian, mereka duduk di sofa ruang keluarga. Ana menyalakan tivi dan menyetel program acara favoritnya, Toms and Jerry. Sedang, Rico menimbang-nimbang brosur yang akan diserahkan pada papanya. “Mana lihat!” seru Hendro, meminta brosur itu. Tanpa menunggu lama, brosur itu pun berpindah tangan.
“Gambar-gambarnya bagus,” komentar Hendro, membuat Rico seketika seperti menari-nari di awan.
“Pada salah satu gambar,” terang Rico, yang kini merasa yakin bahwa papanya pasti menyetujui les balet, “terdapat gambar Andi yang sedang menari-nari.”
“Mana?”
Rico merapatkan tubuhnya pada Hendro. Sehingga, wajah ayah dan anak itu sejarak dua jengkal. “Ini! Yang rambutnya dicat cokelat.”
“Astaga! Itu Andi. Papa tak mengira. Kenapa rambutnya dicat cokelat begitu?”
“Katanya, dia sedang memerankan seekor kancil yang dikutuk menjadi angsa.”
“Peran yang aneh!”
“Begitulah.”
Hendro pun menghela nafas, mulai berpikir keras keputusan apa yang bakal diambilnya setelah melihat brosur itu. Ana hanya senyum-senyum menengok papanya itu. Menurut Ana, papanya terlalu mendramatisir keadaan. Seakan, keputusan yang diambilnya berpengaruh pada seluruh tatanan kehidupan. Berbeda sekali dengan Mama: santai, tapi pasti.
“Papa perlu bicarakan dulu sama Mama,” kata Hendro, mencari aman, agar keputusannya tidak dipersalahkan kemudian hari.
Muka Rico seketika berubah layaknya kepiting rebus. Dia tak menyangka, papanya memilih menggantung keputusan. Ana berupaya membantu adiknya. “Pagi tadi di mobil, kami sudah berdiskusi. Mama bilang bahwa dia menyerahkan sepenuhnya pada Papa. Karena Papa yang mengelola keuangan,” kata Ana.
“Begitu? Baiklah, Papa akan mengambil keputusan. Tahun depan, Rico...” Hendro menahan sejenak, mengambil napas. “Tahun depan, Rico… diizinkan les balet.”
Rico meloncat kegirangan. Ana tertawa. Hendro tersenyum.

BERSAMBUNG...

Kamis, 02 Juni 2016

[CERBER] DUNIA FIKSI 1



Suatu pagi Sally membaca surat kabar yang begini isinya:

KOTA Z - Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kembali terjadi. Kali ini dialami AP (30), warga Kelurahan X, Kecamatan Y, Kota Z.
Menurut AP, istrinya MS (26) sudah sering melakukan kekerasan fisik pada dirinya, hingga tubuhnya memar dan bengkak-bengkak.
"Sejak kami pacaran hingga usia perkawinan sudah dua tahun lebih ini, tidak jarang dia memukul saya," kata AP, di Polresta Z, Rabu (2/9/2095).
Terakhir, penganiayaan terjadi pagi kemarin di kediaman mereka di E. Dia ditendang, dipukul di bagian kepala, dan dadanya diinjak. Tak hanya itu, korban juga kerap dibenturkan ke tembok dan lantai, lalu diinjak-injak.
"Selama ini saya hanya pendam. Karena tidak tahan lagi, saya pun laporkan ke polisi," jelasnya.
Awalnya, lanjut korban, dirinya berpikir kekerasan fisik yang kerap dialaminya akan berlalu setelah menikah dan dikarunia anak. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya.
"Dia tidak pernah berubah. Meski kami sudah dikaruniai seorang putra yang kini sudah berusia hampir tiga bulan, tapi sifat ringan tangannya tidak berubah."
Karena tidak tahan disiksa terus, korban pun terpaksa melaporkan perbuatan istrinya itu ke Polresta Z.
"Permintaan saya bukan cerai. Tapi saya berharap dia ditahan agar jera. Mungkin dengan demikian dia bisa berubah," harap korban.
Kasubbag Humas Polresta Z AKP Anna Indigo mengatakan, laporan korban sudah diterima dan selanjutnya akan ditangani Unit Perlindungan Laki-laki dan Anak (PLA) Polresta Z.
"Korban suruh kami datang lagi pada Senin pagi di PLA. Kasus ini akan segera diselidiki."

Sally beralih ke kolom lain. Dia menghela napas membaca satu lagi berita yang begini isinya:

KOTA Z — Kasus pelecehan seksual di dalam bus trans-Z kembali terjadi. Kali ini, pelecehan seksual dialami RA (15), siswa SMA di bilangan Y. Korban mendapat perlakuan tidak senonoh dari LS (29) saat menumpang bus trans-Z Koridor VII (Kampung A-Kampung D).
Beruntung, aksi LS dipergoki Rasyid (35), penumpang lainnya, yang kemudian langsung membawa korban ke Polresta Z.
Diceritakan Rasyid, RA naik trans-Z dari Halte A, sedangkan LS naik dari Halte B. Memanfaatkan situasi bus yang penuh sesak penumpang, LS dilihatnya mulai mendikati korban yang saat itu sama-sama dalam kondisi berdiri. Sejak di kawasan B, LS mulai terlihat menggerayangi bokong dan bagian belakang paha korban.
"Saya memerhatikan gerak gerik yang mencurigakan dari pelaku. Setelah saya dikati, ternyata benar pelaku sedang memegangi bokong korban," ujar Rasyid di Polresta Z, Rabu (2/9/2095).
Dia mendapati aksi bejat LS saat trans-Z berada di Halte C. Dia pun kemudian menangkap tangan pelaku yang tengah memegangi pantat korban sambil membentaknya.
Keruan saja, teriakan itu mengundang perhatian dari penumpang lainnya. LS pun hampir menjadi bulan-bulanan para penumpang. Beruntung, petugas trans-Z berhasil mencegahnya, kemudian membawanya ke Polresta Kota Z bersama RA dan Rasyid.
Di hadapan penyidik, LS tampak lebih banyak terdiam. Namun, RA yang masih mengenakan seragam SMA dengan beberapa helai janggut tipis di dagu mengiyakan saat petugas menanyakan apakah terjadi pelecehan terhadapnya.
"Saya diam karena saya takut, apalagi pelaku terlihat cantik dan ayu, kalau saya teriak semua orang bakal tidak percaya," kata RA.
LS juga sempat menolak tuduhan saksi dan korban bahwa ia telah melakukan pelecehan seksual. Dia mengaku memegang pantat RA karena saat itu terdorong penumpang lain. Terlebih, saat itu bus dalam keadaan penuh.
"Justru saya menghindari bersentuhan dengan korban, tetapi karena penumpang lain terus berdesakan, akhirnya saya pun terdorong," kilahnya.
Bahkan, guna meyakinkan petugas, pelaku siap mencium kaki korban untuk meminta maaf dan meminta agar kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan.
Karena melibatkan pelajar, oleh petugas, kasus ini kemudian dilimpahkan ke Unit Perlindungan Laki-laki dan Anak (PLA) Polresta Z.

Sally menghempas surat kabar itu di atas meja. “Sial! Seminggu bisa dua kali baca berita kayak begini.”
Tak lama kemudian, Hendro, suami Sally, muncul dari dalam rumah membawa secangkir kopi. “Ada apa toh, Ma? Pagi-pagi sudah masam?”
Sally menerima kopi itu. Segera dihirupnya. Nikmat luar biasa. Hendro memang suami yang pandai. Kalau dipikir-pikir, beruntung sekali dia mendapatkan Hendro. Selain pintar masak, ngasuh anak, Hendro juga hebat di ranjang. “Biasa,” jawab Sally, “berita basi! Agar surat kabar mereka tetap laku.”
Hendro mengernyitkan dahi.
“Iya… berita pelecehan seksual, perkosaan, dan kekerasan rumah tangga. Berita-berita seperti itu ditulis besar-besar judulnya oleh redaksi. Agar pembaca tertarik dan mendapat ‘plus-plus’ selain berita politik. Bacalah gaya bertutur mereka, mirip cerpen,” terang Sally. “Eh, anak kita sudah kau mandikan belum? Lima menit lagi aku berangkat.”
Hendro mengangguk. “Itu mereka sedang sarapan. Apa perlu aku buatkan bekal?”
“Oh tidak-tidak. Siang ini aku makan bersama klien.” Sally beranjak dari kursi, mengelap mulut dari sisa kopi, lalu mengecup dagu sang suami. “Ana! Rico! Ayo, Nak!”
Sejurus kemudian, anak-anak mereka keluar dari dalam rumah. Hendro mencium satu-satu pipi mereka. Sambil melambaikan tangan melihat mobil yang keluar pagar, Hendro berteriak, “Semoga hari ini menyenangkan! Papa mencintai kalian!”

****

Mobil mereka bergerak pelan memasuki jalan protokol Kota Z. Baru beberapa meter, telah terjadi kemacetan. Sally mendengus, kenapa bertahun-tahun pemerintah belum dapat juga menyelesaikan persoalan ini? Bertahun-tahun, ulangnya. Ana yang duduk di sampingnya hanya tersenyum dan berupaya menghibur.
“Kemarin Pak Rudof mendongeng di kelas. Dongeng Aladin. Katanya, Aladin punya kendaraan unik, yakni karpet terbang. Kira-kira di mana tempat menjual karpet terbang itu ya, Ma?”
Rico yang awalnya hanya duduk manis di kursi belakang mendadak nimbrung. “Betulkah? Ada kendaraan semacam itu? Apa namanya tadi? Karpet terbang?”
“Hmmm…,” Sally menggumam, “Iya, karpet terbang, Sayang. Tentu saja ada.”
Ana dan Rico terbelalak. Mereka memusatkan perhatian dan menunggu kata-kata selanjutnya dari Sally. Tentu saja, Sally sebetulnya sudah tidak dapat menahan tawa melihat dua buah hatinya itu memakan umpannya.
“Kita bisa menemukannya di…”
“Iya, di…” kata mereka serentak.
“Di dalam mimpi!”
“Yah…” Ana dan Rico lesu. Lalu, mulai tertawa terbahak-bahak. Mama mereka suka jahil. Tapi anehnya, mereka selalu menikmati kejahilan itu.
“Mama,” kata Rico. “Naik kelas tiga nanti aku mau les balet. Teman-temanku sudah banyak yang les balet.”
“Aku juga,” sambar Ana. “Aku mau masuk tim sepakbola.”
Sally membelokkan mobilnya keluar dari jalan protokol. Beberapa kilo lagi mereka sampai di sekolah. Sally menurunkan gas, dan mulai bicara. “Kamu yakin mau les balet? Sudah kau ceritakan pada Papa? Soalnya dia belum bicara apa-apa pada Mama. Kalau boleh usul, kenapa tidak les musik saja, Sayang?”
“Nggak ah! Aku nggak suka musik. Aku mau nari.”
“Oke, nanti kita diskusikan lagi sama Papa. Dia yang mengatur keuangan kita. Lalu, kau Ana, badanmu kurus begitu mau masuk tim sepakbola. Apa tidak takut cedera?”
“Di mana-mana tiap olahraga ada resikonya, Ma. Percaya saja sama Ana deh.”
Tanpa terasa, mereka telah di depan pintu gerbang sekolah. Kedua buah hatinya itu siap-siap turun. “Belajar yang benar ya,” kata Sally. “Ingat! Kalian nanti dijemput Papa. Jangan coba-coba pulang sendiri. Kalau memang ada belajar kelompok atau kegiatan sekolah, beritahu Papa. Karena dia paling mencemaskan kalian. Mengerti!” Ana dan Rico mengangguk, kemudian keluar dari mobil setelah mencium tangan Sally, satu-satu.

****

Setumpuk kegiatan telah menanti Hendro. Mulai dari masak, cuci pakaian, belanja, hingga membersihkan rumah. Kegiatan-kegiatan itu sudah menjadi tanggung jawabnya. Sebelum menikah, dia dan Sally memang membuat kesepakatan bahwa satu-satunya yang mencari nafkah adalah Sally, sedang urusan rumah tangga dan tetek bengek lainnya jatuh ke tangannya.
Hendro mulai mencatat bahan-bahan yang akan dibelinya di supermarket. Dia teringat Ana dan Rico yang minta dibuatkan rica-rica. “Ah ya, daging ayam.” Lalu membereskan diri seadanya dan berangkat.
Di luar pagar, dia berjumpa Kastadi−tetangga supel yang menjadi teman akrabnya. Kastadi tampak memegang keranjang di tangan kanannya. Hendro segera paham. “Ayo bareng. Ini hari baik, bukan?”
Sepanjang perjalanan menuju supermarket mereka bicara banyak hal. Mulai dari kabar angin Si Kadir yang katanya tak tahan dengan perlakuan istrinya yang buruk, hingga perceraian artis yang terjadi bak cendawan di musim penghujan.
“Memang dua cukup?” tanya Kastadi, mulai memilah-milih sayur di supermarket.
“Apanya?”
“Momongan. Masak cabe!” Mereka berdua tetawa terbahak-bahak.
“Oh! Aku sih pengen banyak. Tapi ndak tahu istriku, dia sepertinya kurang berkenan.”
“Kenapa tidak dijebak aja?”
“Hush! Kalau bikin anak itu jangan main enak sendiri.”
“Oalaa… nanti juga kalau berisi, kan, tetap dirawat.”
“Memang. Tapi ndak seru, kalau merawatnya entar setengah hati? Kamu sendiri ndak nambah?” Hendro memasukkan sayur-sayuran ke keranjang. Kemudian berpindah ke area daging. Dia menunjuk potongan ayam kepada pramusaji. Memeriksanya, dan minta ditimbang.
“Kami berencana tahun depan. Istriku masih berusaha mengumpulkan uang agar tidak memberatkan nanti. Kau tahulah, ada empat kepala yang harus dia beri makan.”
“Kenapa kau tidak kerja saja?” tanya Hendro, kali ini memandang Kastadi lekat-lekat.
“Aku sudah utarakan. Ya… akhirnya dia memperbolehkan juga. Tapi tetap dengan syarat, mencari uangnya cukup di rumah. Seperti membuka kursus, atau usaha katering dan lainnya.”
“Bagus itu. Aku suka. Suami harus pula kreatif. Kalau mau buka kursus. Kursus apa memang?”
Kastadi mendengus, “Hmmm… kau pasti tidak percaya.”
“Apa memang?”
“Menjahit.”
“Kau bisa menjahit rupanya?”
“Bukan lagi bisa, tapi mahir.”
“Wah, kalau begitu sebaiknya buka butik saja. Aku kenal beberapa orang yang bagus buat kau jadikan asisten.”
“Saran yang bagus. Tapi aku butuh persetujuan istiku dulu.”
Mereka menuju kasir. Mengantri, lalu meletakkan satu-satu belanjaan mereka di meja. Kasir tersebut segera menghitungnya. Sembari menunggu total, Hendro menanyakan kontrasepsi, tanpa memedulikan bahwa kasir tersebut turut mendengar.
“Menurutmu, kontrasepsi apa paling baik?”
“Buat siapa dulu, nih?”
“Keduanya boleh.”
“Buat suami, kondom. Buat istri, pil KB.”
“Selain kondom?”
Kastadi mengangkat kedua bahunya, “Tidak ada yang lebih baik.”
“Aku benci kondom. Membuatku tidak leluasa.”
“Tetapi itu berguna mencegah kehamilan.”
“Tentu saja, tapi aku enggan memakainya.”
“Oh, jadi selama ini kau hanya mengandalkan istrimu saja? Itu masih beresiko.”
Hendro menyerahkan kartu kredit miliknya kepada kasir. “Biarlah! Toh, aku sudah mengingatkan Sally untuk mengonsumsi pil KBnya setiap hari.”

****

Ketika bel istirahat berdering keras, seluruh siswa di sekolah dasar di Kota Z berhamburan menuju kantin. Bahkan, sebagain ada yang berlari seakan takut tidak kebagian tempat. Ana perihatin menyaksikan itu setiap hari. Dalam kepalanya, coba saja kalau mereka membawa bekal, maka tidak perlu betul berebutan seperti itu. Dia memilih duduk pada sebuah bangku di bawah pohon. Membuka bekalnya. Cindy dan Putri segera bergabung.
“Kali ini papaku menyiapkan sandwich dan kacang polong. Sungguh bekal yang hebat!” kata Ana, meluap-luap.
Cindy dan Putri lalu membuka pula bekal mereka. Dengen ekspresi mau muntah, keduanya berkata, “Bekal yang buruk!”
“Memang apa yang kamu bawa?”
“Kue lupis. Aku benci kue lupis. Terlalu manis,” jawab Cindy.
“Kamu?”
“Mi instan! Begini nih kalau Umi yang menyiapkan bekal,” rutuk Putri, seakan merindukan sosok abinya.
Mereka tertawa.
“Ngomong-ngomong. Kamu jadi daftar di kesebelasan Esa?” tanya Cindy, sambil berupaya keras menghabiskan kue lupisnya.
“Entahlah. Pagi tadi aku sudah utarakan pada mamaku. Mungkin dia akan memberi jawaban besok.”
Dari kejauhan, mereka melihat anak laki-laki sibuk main lompat karet di halaman sekolah. Sedang, anak perempuan hampir seluruhnya asyik main kelereng. Sekarang, memang lagi musim kelereng. Ana memiliki banyak koleksi kelereng di kamarnya.
“Mau main?” tanya Putri.
“Siapa takut!”
Mereka kembali ke kelas dan mengambil kelereng masing-masing di tas.

****

Brosur les balet yang dibawa Andi hari ini begitu menggodanya. Gambar-gambar penari balet yang sedang melenggak-lenggok bak angsa yang dilihatnya saban hari di danau kota membuatnya berfantasi. Bagaimana kalau itu aku? Mama dan Papa pasti bangga. Oma akan rela datang dari jauh demi melihat aksi panggungnya. Dan setelah turun, omanya itu akan berkata, ‘Cucuku luar biasa. Itu adalah penampilan terbaik yang pernah aku lihat.’ Dia senyum-senyum sendiri membayangkan itu. Membuat Andi keheranan.
“Bagaimana? Jadi daftar?”
“Tentu,” kata Rico, mengalihkan kembali sorot matanya pada Andi. “Tinggal menunggu waktu.”
“Baguslah. Aku senang bila kau turut bergabung.”
Tepat di depan mereka, tiga orang anak laki-laki berpakaian modis, melintas. Mereka sama sekali tidak melirik ke arah Rico dan Andi.
“Sombong sekali orang itu!” Andi bersungut. “Mereka pikir, mereka paling ‘wah’ begitu. Aku sungguh malas bila bertemu mereka lagi di tempat les. Mereka selalu minta diperhatikan lebih oleh instruktur, seakan mereka membayar paling mahal saja.”
“Maksudmu, Brio, Michael, dan Steve juga ada di sana?”
Andi mengangguk.
“Menarik!”
“Apa yang menarik?”
“Artinya kita punya rival. Omaku bilang, rival penting untuk meningkatkan kesungguhan kita.”

****

Setelah bergumul melawan macet berjam-jam, Sally tiba di kantor. Pertama-tama, yang dilakukannya adalah bertanya kepada resepsionis: Apa bos sudah datang? Kalau sudah, dia akan menyiapkan alasan tepat mengenai keterlambatannya. Tapi syukurlah, si resepsionis bilang bahwa bos belum datang. Membuatnya merasa sedikit lega.
Baru saja dia duduk di kursinya, Prisly datang mendekat sambil menjulurkan tangan meminta berjabat. “Selamat!”
“Atas apa ini?”
“Kau serius tidak tahu?”
Sally berupaya mengingat. Rasanya dia tidak berulang tahun hari ini. Memenangi lotere pun mustahil karena dia belum pernah memasang lotre di kasino kota Z, seperti teman-teman lain.
“Katakan apa? Aku malas bermain misteri.”
“Baiklah,” kata Prisly, merasa menang, “Tapi kau harus janji bahwa kau akan mengadakan perayaan.”
“Ya! Apa?” Sally mulai hilang kesabaran.
“Mulai besok kau akan menempati posisi baru.”
“Apakah sebagai satpam? Aku akan menolaknya.”
Prisly tertawa. Dia terkejut mendengar jawaban Sally. “Kau masih bisa bercanda ya di saat seperti ini. Baiklah, aku katakan saja, sebagai Manajer Divisi I.”
Sally terbelalak. Bukankah Manajer Divisi I adalah posisi yang paling didamkan banyak orang? Bila sudah menempati posisi itu, perihal gaji sangat terjamin. Bahkan, dengar-dengar dari selentingan orang, cukup empat tahun saja menjabat sudah dapat membeli satu buah vila di bukit M. Hanya saja, kesibukan yang didapat betul-betul luar biasa. Tapi, apalah arti sibuk empat tahun, bila nantinya mendapat kesenangan sepuluh tahun.
“Kau tidak bercanda, kan?”
“Tentu saja. Aku sebetulnya enggan memberitahumu. Bos menginginkan pengumuman ini di pertemuan nanti. Tapi aku cemas, takutnya kau pingsan. Dan, itu bisa membuat repot banyak orang. Makanya, aku kasih tahu saja sekarang. Hehe.”
Sally menyikut lengan Prisly, “Bisa saja kau!”
“Ayo, cepat! Siapakan materimu. Bentar lagi kita presentasi.”

****

Sembari menunggu Bos memasuki ruangan, Sally membuka akun twitternya. ‘Ricardo Prayitno’ mendadak menempati peringkat atas topik pembicaraan pagi ini. Dia sudah tahu, kenapa Putra Negeri Z 2095 tersebut mendadak dibicarakan banyak orang. Pasti, perihal buka-bukaan yang dilakukan Putra Kota Z tersebut dalam ajang Mister Universe.
“Duh, tiap tahun selalu begini,” rutuk Sally.
“Kenapa? Perihal Mister Universe, ya?” tebak Prisly, seakan tahu isi kepala sahabatnya itu.
“Tidak lain. Menurutmu bagaimana artikel ini?” Sally menyerahkan tabletnya pada Prisly.

KOTA Z – Berhasil melenggang mengikuti kompetisi Mister Universe, merupakan tantangan tersendiri bagi Putra Negeri Z 2095, Ricardo Prayitno.
Selain harus mempersiapkan diri dan potensi terbaik untuk bersaing dengan kontestan lain yang berasal dari beberapa negara. Ricardo juga mesti menguatkan mental dalam mengikuti kompetisi busana swimwear yang merupakan tahapan wajib dalam ajang Mister Universe.
Tantangan terbesar yang dihadapi oleh Ricardo tentunya reaksi penolakan sebagian besar masyarakat Negeri Z mengenai kompetisi busana swimwear itu sendiri.
Mau tidak mau, untuk lancar menjalani masa karantina menuju malam final Mister Universe 2095, Ricardo memang harus mengenakan dan mengikuti kompetisi berbusana swimwear.
Menurut Ricardo, kompetisi dan foto swimwear jangan dilihat dari luar saja. Namun, masyarakat juga harus menghargai niat baik dan perjuangan para Putra Indonesia yang wajib melewati tahapan itu demi mengharumkan nama Negeri Z dalam kancah internasional.
"Foto swimwear jangan dilihat swimwearnya saja, lihat niat baik di baliknya. Dia (Putra Negeri Z) harus memakai swimwear untuk ikut kompetisi," ujar Cipto, Dirut Putra Indonesia, ditemui dalam acara peluncuran jam tangan La Mer di SKYE, Kota Z beberapa waktu lalu.
Menanggapi reaksi penolakan dari sejumlah pihak mengenai pria Negeri Z mengenakan swimwear dalam ajang Mister Universe. Ricardo menuturkan jawaban bijak dan tidak berpihak.
"Saya tidak akan bisa memaksa kehendak semua orang. Karena penduduk Negeri Z ada banyak. Ada seratus juta lebih," imbuhnya.
"Seperti saya hanya foto dengan swimwear memang untuk kompetisi, di luar itu kan tidak pernah lagi. Apa yang harus dilakukan memang perlu dilakukan," pungkas Ricardo sebelum keberangkatannya.

Prisly mengembalikan lagi tablet itu pada Sally. “Menurutku jelas, swimwear adalah bagian dari rangkaian kompetisi tersebut. Lalu, untuk apa dipersoalkan? Kalau tidak mau ikuti rangkaiannya, ya… tidak usah kirim. Terima saja, bahwa kita melewatkan lagi kesempatan besar untuk mempromosikan Negeri Z pada dunia.”
“Sepakat! Tapi, bagaimana menjawab ‘Kenapa perlu buka-bukaan begitu? Kalau dieleminir, kan, tetap tidak mengurangi esensi kompetisi?’”
“Aku mengerti. Hanya, aturan itu dibuat berdasarkan kesepakatan seluruh anggota. Lagi pula, di mana-mana pria adalah media tepat membujuk kaum investor. Bahkan, sejak zaman kuno.”
“Berarti pria itu komoditas dong?”
“Mau tidak mau,” jawab Prisly, mengangkat bahunya. “Bagian dari evolusi.”

****

Hendro menghepas tubuhnya ke sofa. Hembusan angin dari kipas di atas kepalanya segera menyerbu pori-pori rambutnya. Kota Z panas sekali bila siang. Apalagi diperparah emisi gas buang dari kendaraan bermotor yang tumpah ruah sepanjang jalan. Rasa-rasanya, untuk menuju Kota Z yang sehat 2099, hampir mustahil.
Setelah sedikit sejuk, Hendro beranjak ke dapur. Dikeluarkannya satu-satu belanjaannya tadi, lalu ke ruang keluarga, menyalakan tivi, dan memotong-motong bahan untuk membuat rica-rica kesukaan Ana dan Rico.
Tiba-tiba dia teringat perkataan Kastadi di supermarket. Putra yang Ditukar akan memasuki episode terakhir. Dia merasa menyesal melewati tiga episode sebelumnya. Kastadi bilang, pada tiga eposide itu, mulai terungkap bahwa Sunaryo bukan anak dari Retno dan Zali. Sunaryo hanyalah korban kejahatan seorang juru rawat laki-laki yang memendam amarah pada Lili─ibu Sunaryo sebenarnya─karena pernah menolak cinta juru rawat itu. Di sisi lain, Lili sulit melepas Leo, walau dia tahu, Leo bukan anak kandungnya. Tapi dia merasa, Leo dibesarkan olehnya. Dialah yang merawat dan memberi pendidikan hingga Leo mencapai impiannya. Namun, melirik kondisi Sunaryo yang miskin, rasanya tidak adil juga membiarkan anak kandungnya itu tetap bersama keluarga Retno dan Zali. Sehingga, konflik batin pun berkelindan.
Kringgg!!! Kringgg!!!
Dengan sedikit menggerutu, Hendro menyeret kakinya menuju pesawat telepon. “Ya?”
“Dik Hendro? Ini saya, Pak Putu.”
“Oh, Pak Putu. Apa kabar, Pak? Ada apa gerangan menelepon siang begini?”
“Wah, maaf ya Dik, bila saya mengganggu aktivitasnya. Saya sebetulnya─”
“Oh nyantai saja, Pak,” potong Hendro yang menyiratkan bahwa dia tidak mau berbasa-basi lagi. “Katakan saja apa yang bisa saya bantu?”
“Begini Dik. Si Lela sepanjang hari ini tidak enak badan. Saya takut terjadi kenapa-kenapa. Maka itu, saya ingin mengajaknya berobat. Tapi saya tidak memiliki kendaraan. Kendaraan kami, yang hanya satu-satunya itu, sedang dipakai istri saya kerja. Boleh tidak Dik, saya pinjem dulu motornya? Saya janji ganti minyaknya nanti.”
“Oh, tidak perlu begitu Pak,” jawab Hendro, lugas. “Jangan sungkan memakainya. Pakai saja sesuka hati. Tapi−“ suara Hendro agak tertahan. “Kalau bisa, usahakan pukul satu siang ini kembali ya, Pak. Soalnya mau jemput Ana dan Rico.”
“Pasti Dik! Saya akan kembali sebelum pukul satu siang. Terima kasih sekali ya Dik. Pak Hendro memang tetangga─”
“Oke! Ambil saja motor dan kuncinya di rumah.”
“Baik Dik! Terima kasih sekali lagi.”
Klekkk!!!

****

Setelah menaruh buku ajarnya di atas meja, Pak Rudof menyambar kapur dan menulis sebuah tema yang akan dibahasanya hari ini: Manusia Purba.
“Sebelum kita masuki materi. Bapak ingin tanya dulu, siapa di sini yang pernah berkunjung ke Museum Purbakala E?”
Hampir sebagian siswa menunjuk, termasuk Ana.
“Ana!” seru Pak Rudof. “Bagaimana rupa manusia purba di museum itu?”
Ana berupaya mengingat. “Kulit mereka hitam dan ditumbuhi banyak bulu. Mereka tidak berpakaian. Yang laki-laki, banyak janggutnya. Sedang perempuan, rambut mereka kusut.”
Seketika, seluruh murid kelas enam SD tersebut tertawa terbahak-bahak. Pak Rudof berusaha menenangkan. “Sudah! Sudah! Apa  yang lucu?” Pak Rudof kemudian menerangkan pembabakan zaman prasejarah berdasarkan geologi, arkeologi, dan ciri-ciri kehidupan masyarakatnya.
“Nah, berdasarkan ciri-ciri kehidupan masyarakat, manusia purba dibagi menjadi tiga periode. Pertama, masa berburu dan mengumpulkan makanan. Kedua, masa bercocok tanam. Ketiga, masa perundagian. Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, manusia purba mulai mengenal pembagian tugas. Para arkeolog dan antropolog sepakat bahwa dari bukti-bukti yang ada, menunjukkan perempuan tugasnya berburu, sedang laki-laki menjaga anak-anak. Dan, ini semakin dipertegas setelah memasuki masa bercocok tanam, saat manusia purba mulai tinggal di goa-goa. Ada banyak lukisan yang menunjukkan gambar laki-laki mengasuh anak, sedang perempuan berburu. Maka itu, tak heran, kenapa saat ini ibu kita yang berkerja mencari nafkah, bukan ayah? Karena sudah dahulu kala pembagian tugas itu terbentuk. Paham?”
Semua serentak menjawab, “Paham, Pak!”
“Bagus! Nah, sekarang buka halaman 52!”
Ana segera menuju halaman yang dimaksud Pak Rudof. Sebetulnya, ada yang ingin dia tanyakan kepada gurunya itu perihal pembagian tugas tadi. Sayangnya, Pak Rudof belum membuka kesempatan bertanya.

BERSAMBUNG...